Tuesday, January 21, 2020

Sebuah Rahasia Giving "Memberi"

MAU SAYA BOCORIN SEBUAH RAHASIA?


Sesekali kita ubah topik boleh? Sekedar mengingatkan hukum aplikasi psikologi tentang GIVING “memberi”.  Hukum alamnya adalah “give first than you will get”. Beri terlebih dahulu nanti kamu pasti akan mendapatkannya.

Sekarang kita coba buktikan dengan teknik ini dalam kehidupan sehari hari.

Kita coba ya. Coba kita lihat lemari pakaian kita saat ini. percaya saya dari 10 baju yang kita punya yang sering kita pakai hanya 4 bahkan ada 1-2 dari 10 pakaian tadi sejak beli baru di pakai sekali?!!!

Yang tersering kita pakai hanya itu-itu saja.
Lalu kita coba lakukan eksperimen. Pilih baju yang paling jarang anda pakai tadi dan berikan kepada saudara yang membutuhkan. Katakanlah anda memberikan 4 baju tinggal 6 baju tersisa di lemari pakaian anda.
Saya yakin mungkin dalam kurang lebih 2 bulan atau tidak lebih dari 3 bulan ada akan ada 10 pakaian lagi di lemari anda. Lalu ada yang menarik.

Ternyata dari 10 baju tadi, yang anda pakai ya tetap 4 baju saja walau mungkin yang 4 baju lama tadi tidak di pakai tetapi kecil kemungkinan anda memakai ke 10 baju tersebut dengan adil.

Dengan kata lain, ada juga baju yang sekali dua saja anda pakai, walau mungkin baju yang anda beli baru menambah 4 tadi adalah pilihan anda, impian anda , favorit anda.

Lalu anda seleksi lagi, dan berikan lagi yang paling jarang di pakai 4 baju. Dan kejadian ini akan berulang lagi. Jangan heran itulah sifat alami manusia dan itulah sifat alam.

Semesta tidak menyukai “kekosongan” ada cara membuat anda memutar baju tadi dan ada manusia yang tidak punya apa-apa mendapatkan “hak”nya dengan cara manusia di buat seperti itu, sulit adil. Jadi itulah tadi prinsip kita “harus memberi”.

Sekarang Anda putuskan (amit amit ya jangan sampai) ini hanya contoh. Anda terus memakai yang favorit 4 tadi yang sisanya dimana secara alami baju tersebut pasti akan usang. Baju anda yang sering di pakai jadi “worn out” baju yang tidak di pakai jadi lusuh juga, dan aura citra diri Anda secara tidak sadar menjadi kumuh. Maaf loh ini ya saya menulis dengan cara yang sedikit lugas, ngapunten.

Tetapi anda pasti faham maksud saya. Jangan lah menahan jadilah selalu mengalir, berikan yang lebih. Setelah itu akan ada cara kehidupan mengisi kantong kita yang tidak seimbang tadi. Sudah mulai mengerti?

Perlu contoh lagi?
Ini trik banyak di lakukan di mall penjualan hape seperti di ambassador kuningan atau mangga dua.
Kita ingat bahwa “give first” adalah kunci.
Maka ketika anda celingak celinguk di depan toko, maka sang enci atau mas-mas penjual di toko tersebut akan berkata “ cari apa?” , masuk pak/bu!

Dan ketika anda masuk di suguhi gelas aqua kecil dengan sedotan di atasnya.

Ketika anda ambil gelas itu dan menusukan sedotan itu ke gelas lalu anda menyeruput air aqua tadi, tak lama anda pasti duduk di kursi plastik di depan counter dan tak lama kemudian tawar menawar terjadi dimana 90% atau “most likely” anda pasti BELI.

Anda kena “ give first”, anda minum pemberian dia tadi.

Itulah hukum alam. Memahami hukum alam ini membuat anda memahami cara uang datang ke anda.

Mudah-mudahan sekarang faham dan kita kunci ilmu tadi sebagai ilmu kita untuk makmur yaitu “beri terlebih dahulu”. Jangan pernah kita berkata dengan perkataan nanti kalau saya sudah “punya” saya akan beri. Maaf alam tidak seperti itu berlakunya.

Kita lanjut lagi dengan pelajaran berikutnya rahasia milionaire mindset, ada yang suka dengan ilmu beginian? #peace
#intermezo

Friday, January 10, 2020

Anak-anak yang Mati Rasa | Akhir Zaman

Anak-anak yang Mati Rasa
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Kelak akan tiba masanya, seperti yang dikabarkan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, orangtua berpayah-payah mendidik anak, tetapi anaknya memperlakukan emaknya seperti tuan memperlakukan budaknya. Dan aku takut peristiwa itu akan terjadi di masa ini, masa ketika anak-anak tak mengenal pekerjaan rumah-tangga, dan pesantren maupun sekolah-sekolah berasrama lainnya tak lagi menjadi tempat bagi anak untuk belajar tentang kehidupan. Anak-anak itu belajar, tetapi hanya mengisi otaknya dengan pengetahuan yang dapat diperoleh dari Google. Sementara tangannya bersih tak pernah mencuci maupun melakukan pekerjaan-pekerjaan fisik lainnya, sehingga empati itu mati sebelum berkembang. Tak tergerak hatinya bahkan di saat melihat emaknya kesulitan bernafas seumpama orang hampir mati disebabkan ketuaan atau sakitnya kambuh, tetapi anak tak bergeming membantunya. Apalagi berupaya melakukan yang lebih dari itu.

Aku termangu mengingat nasehat Rasulullah Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam mengenai tanda-tanda hari kiamat, salah satunya dari hadis panjang yang kali ini kita nukil ringkasnya:
.
سَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا: إِذَا وَلَدَتِ الْمَرْأَةُ رَبَّتَهَا
.
“Aku akan memberitahukan kepadamu tanda-tandanya; jika seorang (sahaya) wanita melahirkan tuannya.” (Muttafaqun ‘Alaih).
.
.
Ibunya bukanlah seorang budak. Bukan. Ibunya orang merdeka. Tetapi anak-anak itu tak tersentuh hatinya untuk cepat tanggap membantu ibunya. Padahal membantu saat diminta adalah takaran minimal bakti kepada orangtua. Takaran di atas itu, tanpa diminta pun ia sudah tergerak membantu. Dan di atasnya lagi masih bertingkat-tingkat kebaikan maupun kepekaan seorang anak tentang kebaikan apa yang sepatutnya ia perbuat terhadap kedua orangtuanya.

Ada yang perlu kita renungi. Ada airmata yang perlu mengalir, menadahkan tangan mendo’akan anak-anak dan keturunan kita, menangisi dosa-dosa, berusaha memperbaiki diri dan tetap tidak meninggalkan nasehat bagi anak kita karena ini adalah haknya. Nasehat. Ia adalah kewajiban kita untuk memberikannya meskipun mereka tak memintanya. Kitalah yang harus tahu kapan saat tepat memberikan nasehat sebab semakin memerlukan nasehat, justru kerapkali semakin merasa tak memerlukan nasehat.

Hari ini, betapa banyak anak yang di sekolah berasrama tak diajari mengurusi kehidupan pribadinya karena makanan siap saji setiap waktu makan, hanya perlu berbaris untuk mengambilnya. Sedangkan pakaian pun tak perlu ia menyempatkan waktu mengatur jadwal agar bersih saat mau digunakan, sementara tugas sekolah tetap tertunaikan. Tidak terbengkalai. Maka di saat mereka pulang, kita perlu melatih tangan dan juga hatinya agar tanggap. Bukan menyerahkan begitu saja kepada pembantu. Tampaknya ini hanya urusan pekerjaan rumah-tangga yang sepele, tetapi di dalamnya ada kecakapan mengelola diri, mengatur waktu dan lebih penting lagi adalah empati.

Apakah tidak boleh kita menggembirakan mereka dengan sajian istimewa saat mereka pulang dari pesantren? Boleh. Sangat boleh. Tetapi hendaklah kita tidak merampas kesempatan mereka untuk belajar mengenal pekerjaan rumah-tangga, menghidupkan empati dan mengasah kepekaannya membantu orangtua. Liburan adalah saat tepat belajar kehidupan. Bukan saat untuk libur menjadi orang baik sehingga seluruh kebaikan yang telah biasa mereka jalani di sekolah, sirna saat liburan tiba. Mereka seperti raja untuk sementara, sebelum kembali ke penjara suci.

Diam-diam saya teringat, konon di sebuah sekolah bernama Eton College, semacam Muallimin di Inggris tempat anaknya raja maupun anak orang sangat kaya bersekolah, para siswa diharuskan mencuci dan menyeterika bajunya sendiri. Bukan bayar laundry. Ini bukan karena orangtua mereka fakir miskin. Bukan. Tetapi karena dalam urusan sederhana itu ada kebaikan yang sangat besar bagi kehidupan mereka di masa yang akan datang, termasuk dalam hal kepemimpinan. Mereka menjadi lebih peka tentang apa yang seharusnya dilakukan saat menjadi pemimpin perusahaan, termasuk dalam mengelola waktu.

Apa yang dilakukan di Eton College sebenarnya bukan barang baru, tetapi saya merasa perlu menghadirkan kisah ini selintas hanya untuk menggambarkan betapa anak-anak memerlukan latihan untuk mengasah kepekaannya, menghidupkan empatinya dan meringankan langkahnya membantu orangtua. Mereka sangat perlu memiliki semua itu karena dua alasan. Pertama, ketiganya (kepekaan, empati dan kemauan untuk meringankan langkah) sangat mereka perlukan dalam menjalani kehidupan bersama orang lain, baik ketika berumah-tangga maupun berdakwah dan mengurusi ummat. Artinya, minimal semua itu mereka perlukan untuk meraih kehidupan rumah-tangga yang baik, tidak terkecuali dalam mendidik anak. Kedua, ketiganya mereka perlukan untuk dapat berbuat kebajikan bagi kedua orangtua (birrul walidain) dengan sebaik-baiknya. Dan birrul walidain merupakan salah satu kunci kebaikan yang dengan itu anak dapat berharap meraih ridha dan surga-Nya Allah ‘Azza wa Jalla.

Jadi, urusan terpentingnya bukan karena kita kewalahan lalu perlu bantuan mereka. Bukan. Bukan pula karena kita repot sehingga memerlukan kesediaan mereka untuk meringankan tugas-tugas kita. Tetapi hal terpenting dari melibatkan anak membantu pekerjaan di rumah dan tanggap terhadap orangtua justru untuk keselamatan dan kebaikan anak kita di masa-masa yang akan datang. Kejamlah orangtua yang tak melatih anaknya untuk berbakti kepadanya hanya karena merasa orangtua tak perlu menuntut anak membantunya. Ingatlah, kita latih, dorong dan suruh mereka agar cepat tanggap dan ringan membantu bukanlah terutama untuk meringankan beban orangtua, tetapi justru agar anak-anak kita memperoleh kemuliaan dan kebaikan di sisi Allah ‘Azza wa Jalla dengan birrul walidain. Sekurang-kurangnya tidak menyebabkan mereka terjatuh pada perbuatan mendurhakai orangtua. Dan ini merupakan serendah-rendah ukuran.

Ada yang perlu kita khawatiri jika lalai menyiapkan mereka. Pertama, anak-anak merasa berbuat kebajikan kepada kedua orangtua, termasuk membantu pekerjaan di rumah, bukan sebagai tugasnya. Mereka tak membangkang, tetapi lalai terhadap apa yang sepatutnya mereka kerjakan. Ini merupakan akibat paling ringan. Kedua, anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang durhaka kepada orangtua. Dan karena kedurhakaan itu bersebab kelalaian orangtua dalam mendidik, maka di Yaumil Qiyamah mereka menjatuhkan orangtua di mahkamah Allah ‘Azza wa Jalla sehingga justru orang yang merasakan azab akhirat. Ketiga, sebagaimana disebut dalam hadis di atas, anak-anak berkembang menjadi pribadi yang memperbudak orangtua, bahkan setelah mereka mempunyai anak. Na’udzubiLlahi min dzaalik.

Ada yang perlu kita renungkan tentang bagaimana kita mendidik anak-anak kita. Saatnya kita kembali kepada tuntunan agama ini, bertaqwa kepada-Nya dalam urusan mendidik anak dan berusaha menggali tentang apa saja yang harus kita bekalkan kepada mereka.
.
.
.
Tulisan ini dimuat di Majalah Hidayatullah edisi Desember 2019