Wednesday, May 30, 2018

Best Practice Program Unggulan Adiwiyata Nasional SMKN 1 Kraksaan



Program Adiwiyata SMKN 1 Kraksaan


ABSTRAK


Tujuan dari best practice ini yaitu mengetahui: (1) Pengembangan lingkungan sekolah yang mencakup: Penataan dan Pengembangan Lingkungan Sekolah dengan Program Unggulan Adiwiyata Sekolah; dan (2) Pencapaian standar nasional pendidikan melalui penguatan manajemen lingkungan sekolah yang mencakup: Penataan dan Pengembangan Lingkungan Sekolah dengan Program Unggulan Adiwiyata Sekolah. Metode pemecahan masalah dilakukan melalui langkah-langkah yang digunakan melalui empat tahap kegiatan yaitu: (1) perencanaan program, (2) sosialisasi program, (3) pelaksanaan program, dan (4) evaluasi program.

Berdasarkan temuan dan pembahasan dapat disimpulkan: (1) Pengembangan lingkungan sekolah yang mencakup: Penataan dan Pengembangan Lingkungan Sekolah dengan Program Unggulan Adiwiyata Sekolah berhasil dan berjalan efektif dan efisien; dan (2) Tercapainya standar nasional pendidikan melalui penguatan manajemen lingkungan sekolah yang mencakup: Penataan dan Pengembangan Lingkungan Sekolah dengan Program Unggulan Adiwiyata Sekolah. Program ini dilaksanakan mulai tahun pelajaran 2013/2014, dengan nmenggunakan format daftar kegiatan Adiwiyata dan format laporan kegiatan Adiwiyata kinerja layanan bisa dilihat terjadinya peningkatan kinerja dan produktfitas layanan khusus yang pada gilirannya meningkatkan standar nasional pendidikan.

Rekoemndasi yang dapat dikemukakan yaitu: (1) Perlu penanam bunga, dan diperlukan kerjasama guru, siswa dan TAS; (2) Untuk perawatannya perlu di sediakannya kran untuk penyiraman bunga; (3) Perlu penambahan pompa air untuk pemenuhan kebutuhan air dalam perawatan’ (4) Perlu ditingkatkan program bersama dan perawatan secara berkala yaitu program “JUMSIH”; (4) Di sediakannya tulisan agar lebih mencintai taman; (5) Diperlukan kerjasama dengan pihak luar agar Adiwiyata dapat berjalan dan berhasil dengan baik; (6) Perlu kerjasama dengan guru, utamanya mata pelajaran Geografi dan Biologi yang memanfaatknan lingkungan sebagai bahan ajar; dan (7) Perlu disediakan lahan untuk pembibitan.

Kata kunci: Standar nasional pendidikan, penataan lingkungan fisik sekolah, pengembangan lingkungan psikologis-sosial-kultural sekolah.

  

BAB I

PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Sekolah merupakan instansi pendidikan yang di dalamnya terdapat siswa, guru dan tenaga administrasi sekolah (TAS). Lingkungan kerja yang aman dan nyaman dibutuhkan agar produktifitas kepala sekolah, guru, TAS, dan peserta didik mampu meningkatkan tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.  Untuk itu diperlukan manajemen lingkungan sekolah yang memadai. Lingkungan sekolah memberikan pengaruh yang besar dalam pembentukan berbagai sifat, sikap, perasaan, pemikiran, dan unsur psikologis lainnya (Suwarni dkk, 2011).

Saat itu SMKN 1 Kraksaan memiliki luas 10090 m2 dan sepertiga dari luas tanah tersebut merupakan lahan atau hamparan tanah yang kosong dengan kondisi sekolah yang gersang, kering dan panas. Kondisi tersebut menyebabkan guru dan peserta didik kurang nyaman dalam melaksanakan proses pembelajaran. Padahal sekolah merupakan sumber inspirasi anak. Inspirasi ini bisa muncul kapan saja saat mereka masuk gerbang sekolah, saat istirahat dan lain-lainnya. Kondisi inilah yang mendorong munculnya ide program unggulan Adiwiyata sekolah.

Untuk mendukung efektifitas kinerja tenaga administrasi sekolah, diperlukan kualifikasi pendidikan TAS yang memadai, sebab kuaifikasi pendidikan berpengaruh terhadap kesadaran pentingnya arti sebuah produktifitas. Hal ini selaras dengan pendapat Ningrum, Sunuharyo, dan Hakam (2013:1) bahwa pendidikan berpengaruh signifikan terhadap kinerja. Di SMKN 1 Kraksaan masih terdapat petugas  SMK/SMA dan ini sangat berpengaruh terhadap keberhasilan adiwiyata dengan dukungan mereka untuk menyukseskan kegiatan adiwiyata disekolah kami.
  

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah best practice ini yaitu:
1.     Bagaimana pengembangan lingkungan sekolah yang mencakup: Penataan dan Pengembangan Lingkungan Sekolah dengan Program Unggulan Adiwiyata Sekolah?
2.  Bagaimana pencapaian standar nasional pendidikan melalui penguatan manajemen lingkungan sekolah yang mencakup: Penataan dan Pengembangan Lingkungan Sekolah dengan Program Unggulan Adiwiyata Sekolah?

C.    Tujuan

Tujuan dari best practice ini yaitu mengetahui:
1.      Pengembangan lingkungan sekolah yang mencakup: Penataan dan Pengembangan Lingkungan Sekolah dengan Program Unggulan Adiwiyata Sekolah.
2.  Pencapaian standar nasional pendidikan melalui penguatan manajemen lingkungan sekolah yang mencakup: Penataan dan Pengembangan Lingkungan Sekolah dengan Program Unggulan Adiwiyata Sekolah.

D.    Manfaat

Manfaat yang di peroleh dalam penulisan best practice ini, yaitu:
1.  Sekolah, terciptanya kondisi Penataan dan Pengembangan Lingkungan Sekolah dengan Program Unggulan Adiwiyata Sekolah yang kondusif.
2.      Kepala sekolah, dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan penilaian kinerja tenaga administrasi sekolah.
3.  Guru dan peserta didik, dapat menggunakan lingkungan fisik sekolah dan pengembangan lingkungan psikologis-sosial-kultural sekolah yang kondusif untuk proses pembelajaran.
4.      Kepala tata usaha: tolok ukur tingkat ketercapaian kompetensi manajerial kepala tata usaha.
5.      Masyarakat: meningkatkan antusias orang tua untuk menyekolahkan anaknya di SMKN 1 Kraksaan.

BAB II

KAJIAN TEORI


A.    Standar Nasional Pendidikan

Standar nasional pendidikan merupakan kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Fungsi standar nasional pendidikan yaitu sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. Tujuan standar nasional yaitu menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.

Triwiyanto (2014:108) menyatakan standar nasional pendidikan dijadikan sekolah untuk menentukan aktivitas dan perbaikan-perbaikan program untuk mencapai tujuan pendidikan.  Untuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah itu diperlukan kerja sama semua warga sekolah (pendidik, peserta didik, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan) dan pihak-pihak di luar sekolah yang ada kaitannya dengan sekolah (orang tua, dinas pendidikan, yayasan, pusat kesehatan masyarakat, dan lain-lain). Kerja sama tersebut harus dipupuk dan dibina untuk mencapai sumbangan yang optimal dalam mencapai tujuan sekolah. Hubungan atau kerja sama untuk mencapai tujuan pendidikan dengan berbagai aspeknya ini dapat dipandang sebagai layanan manajemen pendidikan yang diberikan sekolah.

Tujuan diadakannya layanan manajemen sekolah yaitu mengoptimalkan kinerja setiap substansi untuk mencapai tujuan pendidikan yang sudah ditentukan. Suharsimi dan Yuliana (2012:6) menyebut substansi manajemen sekolah ini dengan istilah bidang garapan, betapapun kecilnya suatu organisasi pendidikan, tentu memiliki unsur-unsur bidang garapan/substansi itu. Hanya proporsi dari masing-masing unsur tersebut saja yang tidak sama. Unsur-unsur substansi/garapan itu meliputi (1) layanan kurikulum dan pembelajaran; (2) layanan peserta didik; (3) layanan pendidik dan tenaga kependidikan; (4) layanan keuangan pendidikan; (5) layanan sarana dan prasarana; dan (6) partisipasi masyarakat. Purwanto (2009:14) menyatakan bahwa semua kegiatan sekolah akan dapat berjalan lancar dan berhasil baik jika pelaksanaannya melalui proses-proses yang terdapat dalam unsur-unsur substansi/garapan garapan tersebut.

B.     Lingkungan Sekolah

Lingkungan sekolah berperan besar terhadap transmisi budaya dari guru kepada peserta didik. Triwiyanto (2014:66) menyatakan transmisi budaya masyarakat terjadi salah satunya di sekolah, tentunya budaya yang dianggap baik dan mencerminkan nilai-nilai masyarakat. Transmisi budaya terjadi melalui materi-materi dan contoh-contoh dalam proses pembelajaran di sekolah (Juharyanto, 2014). Selain itu perjumpaan peserta didik dengan peserta didik lainnya, peserta didik dengan pendidik/guru, atau peserta didik dengan lingkungan sekolah juga merupakan media transmisi budaya.

Intensitas peran atau aktivitas pendidikan akan membesar atau mengecil tergantung lingkungan sekolah yang memengaruhinya. Lingkungan sekolah tersebut memberikan kontribusi terhadap perkembangan peserta didik, walaupun dengan kadar yang berbeda. Pasya berpendapat (2008:2) lingkungan adalah sistem yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, kekuatan dan mahluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang menentukan perikehidupan manusia serta kesejahteraan manusia dan mahluk hidup lainnya.

Manajemen lingkungan sekolah dapat dilakukan melalui beberapa tahap kegiatan yaitu: (1) perencanaan program, (2) sosialisasi program, (3) pelaksanaan program, dan (4) evaluasi program (Direktorat PSD Kemdikbud, 2013:44). Usaha mencapai tujuan manajemen lingkungan sekolah tersebut tidak bisa dilepaskan dari perilaku manusia dalam kegiatannya sebagai subyek dan obyek. Usman (2010:13) menyatakan bahwa secara filosofis, perilaku manusia terbentuk oleh interaksi antarmanusia, iklim organisasi (konteks organisasi), dan sistem yang dianut. Ketiga interaksi tersebut, baik secara sediri-sendiri maupun secara bersama-sama saling berinteraksi dengan lingkungan eksternalnya. Interaksi keempat faktor tersebut yang mempengaruhi perilaku pengelola pendidikan.


BAB III

METODE PEMECAHAN MASALAH


Pemecahan masalah meliputi dua hal yaitu: (1) pengembangan lingkungan sekolah yang mencakup: Penataan dan Pengembangan Lingkungan Sekolah dengan Program Unggulan Adiwiyata Sekolah dan (2) pencapaian standar nasional pendidikan melalui penguatan manajemen lingkungan sekolah dalam bentuk program Adiwiyata sekolah. Langkah-langkah yang digunakan melalui empat tahap kegiatan yaitu: (1) perencanaan program, (2) sosialisasi program, (3) pelaksanaan program, dan (4) evaluasi program.

1.         Perencanaan Program
Dalam perencanaan penyemaian budaya dan pengaturan lingkungan sekolah perlu dirumuskan terlebih dahulu target atau sasarannya. Kemudian menyusun program  dan menentukan strategi mencapai tujuan/target. Profil budaya dan lingkungan sekolah yang diharapkan perlu dinyatakan dengan tegas. Program yang dibuat digolongkan menjadi dua program, yaitu program penataan lingkungan sekolah (utamanya fisik), dan program pengembangan lingkungan psikologis-sosial-kultural sekolah.

2.         Sosialisasi Program
Sosialisasi program budaya dan lingkungan sekolah dilakukan melalui bebsarapa cara: (a) Sosalisasi program kepada guru, ini dimaksudkan agar budaya dan lingkungan sekolah diketahui oleh pendidik sebagai pedoman berperilaku dan pemberian teladan kepada peserta didik. Guru adalah pelaku utama pembinaan dan pengembangan budaya dan lingkungan sekolah. Melalui pembelajaran, pembiasaan dan keteladanan guru, penyemaian budaya dan penciptaan lingkungan yang kondusif di sekolah dapat terealisasi; (b) Sosialisasi kepada peserta didik. Bertujuan menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya peran peserta didik dalam implementasi pembinaan dan pengembangan budaya dan lingkungan sekolah. Dengan disosialisasikannya program tersebut, maka peserta didik diharapkan lebih aktif dalam mengimplementasikannya; (c) Sosialisasi melalui pemasangan poster, baliho, dan spanduk. Pemasangan dilakukan di tempat strategis, (d) sosialisasi kepada orang tua siswa SMKN 1 Kraksaan untuk mendapatkan dukungan program Adiwiyata.

3.         Pelaksanaan Program
Langkah-langkah yang dilakukan sekolah kaitannya dengan pelaksanaan program yaitu: (a) Membentuk tim pengembang lingkungan sekolah yang terdiri atas kepala sekolah, guru, komite sekolah, tenaga administrasi sekolah, wakil orang tua dan wakil peserta didik; (b) Menyusun deskripsi tugas tim; (b) Tim yang dibentuk menyusun target kegiatan, menyusun program kegiatan, menyusun strategi pelaksanaan program, memilih dan menyusun alat dan strategi pengawasan; (c) Melaksanakan program sesuai rambu-rambu yang telah dirumuskan; dan (d) Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan program secara bertahap.
Untuk merealisasikan program, tim pengembang menyusun program jangka panjang, menengah dan pendek bagi pembinaan dan pengembangan budaya dan lingkungan sekolah. Program jangka panjang, menengah dan pendek  berisi jabaran tentang:target jangka panjang, kegiatan jangka panjang, strategi pelaksanaan jangka panjang, dan evaluasi program jangka panjang.

4.         Evaluasi Program
Implementasi, pembinaan, pengembangan budaya dan lingkungan sekolah dilakukan secara terus menerus. Implementasinya dimonitor terus menerus untuk diketahui kendalanya dan faktor pendukungnya. Tujuan evaluasi implementasi budaya dan lingkungan sekolah yaitu: (1) mengetahui ketercapaian target yang telah ditetapkan; (2) mengetahui target yang sudah dan belum tercapai; (3) mengetahui faktor penghambat ketercapaian target; (4) mengetahui upaya yang sudah dilakukan dalam rangka mengatas kendala; (5) mengidentifikasi unsur rencana dan pelaksanaan program yang perlu diperbaiki dan dikembangkan sehingga diperoleh hasil yang lebih optimal untuk saat yang akan datang.
Adiwiyata dilakukan melalui langkah-langkah ketersediaan bangunan sekolah yang sehat, lapangan bermain, pepohonan rindang, sistem sanitasi dan sumur resapan air, tempat pembuangan sampah, dan lingkungan sekitar sekolah yang mendukung.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN PROGRAM


A.    Pelaksanaan Program

Adiwiyata merupakan kegiatan menyediakan fasilitas ketersediaan bangunan sekolah yang sehat, lapangan bermain, pepohonan rindang, sistem sanitasi dan sumur resapan air, tempat pembuangan sampah, dan lingkungan sekitar sekolah yang mendukung. Kondisi tersebut selain berfungsi sebagai pendukung keasrian dan keindahan sekolah, juga berfungsi sebagai pendukung keterlaksanaan pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan. Adiwiyata merupakan salah satu kegiatan 7 k yang menjadi salah satu tanggung jawab Layanan khusus yaitu keamanan, kebersihan, keimanan kekeluaargaan, kerindangan,kerapihan, keindahan.

Untuk mendukung keberhasilan program Adiwiyata sekolah, terdapat beberapa hal (sub program) yang secara serius dikembangkan, antara lain: (1) Peningkatan kompetensi kinerja petugas layanan khusus (tukang kebun dan petugas kebersihan); (2) Menyusun langkah-langkah pelaksanaan program Adiwiyata sekolah; (3) Melibatkan pihak-pihak terkait, baik dari dalam dan luar sekolah dalam mendukung keberhasilan program Adiwiyata sekolah; dan (4) Melakukan evaluasi dampak keberhasilan program Adiwiyata sekolah terhadap ketercapaian 8 Standar minimal pendidikan.

Selanjutnya diuraikan masing-masing subprogram di atas secara rinci sebagai gambaran dukungannya terhadap ketercapaian program Adiwiyata sekolah dalam rangka meningkatkan kinerja petugas layanan khusus yang secara simultan berdampak pada tingginya keberhasilan program pendidikan dan pembelajaran di SMKN 1 Kraksaan.

Pelaksanaan program Adiwiyata ini dilaksanakan dalam jam kerja yaitu dimulai pukul 09.00 s/d pukul 14.00 WIB (PP 53 tahun 2010). Sehingga, dari segi kuantitas waktu, praktis membuat SDM ini tercapai dalam kehadiran di sekolah yaitu pekerjaan dimulai sore pkl 04.00 s/d pkl 05.00 dilanjutkan membersihkan halaman sekolah pagi hari dimulai pukul 05.30 s/d pukul 06.30. Dapat disimpulkan bahwa SDM ini telah memenuhi jam kerja dalam melaksanakan tugasnya yaitu 7 jam dalam sehari. Untuk mengukur peningkatan kinerja petugas layanan khusus melalui program unggulan Adiwiyata ini disediakan format daftar hadir yang dipakai sebagai acuan penilaian keaktifan petugas layanan khusus di sekolah.

Di sediakan pula format laporan kegiatan sebagai acuan penilaian seberapa tinggi produktifitas tenaga layanan khusus di SMKN 1 Kraksaan Probolinggo mengalami peningkatan.

Sebelum pembahasan program Adiwiyata sekolah dalam forum rapat koordinasi, hal yang dilakukan adalah pendekatan dengan petugas layanan khusus.  Sebagai kepala TAS, saya mendedikasikan diri minimal 3 kali dalam seminggu untuk hadir di sekolah pukul 05.30 untuk menemani penjaga sekolah, petugas kebersihan dalam melaksanakan tugasnya.

Perhatian yang  ditunjukkan ini ternyata memberi semangat baru  pada petugas  layanan khusus hal ini terbukti adanya peningkatan  komunikasi, sharing saat rapat koordinasi, memberi masukan bahkan kritikan tentang Kepala TAS dan kebijakan sekolah, keterbukaan inilah yang membuat Kepala Tas memberanikan diri untuk menyampaikan gagasan ini.

Koordinasi tiap 2 bulan sekali dilaksanakan dalam forum baik dalam kondisi formal maupun informal, bahasa dan komunikasi yang digunakan juga bahasa ringan, lokasi rapat sering dilakukan di luar kantor, misalnya di rumah makan dan tempat wisata. Keterbukaan, kekompakan inilah yang memberanikan diri untuk menyampaikan gagasan atau program Adiwiyata sekolah. Dengan keterbukaaan, kekompakan tim inilah yang meyakinkan diri saya untuk menyampaikan program Adiwiyata ini. Secara bersama-sama program ini dibahas untuk pengajuan proposal yang berisikan latar belakang, tujuan, pembiayaan, sampling Adiwiyata dan manfaatnya.

  
Dalam rangka disetujuinya program ini, pendekatan yang dilakukan Kepala TAS terhadap semua komponen yang ada di sekolah diantaranya:
1.      Meningkatkan kedisiplinan kerja sebagai kepala tata usaha.
2.      Kepala tata usaha merupakan sosok atau figur khususnya bagi pelaksana urusan dan layanan khusus.
3.      Menunjukkan peningkatan etos kerja.
4.      Bekerja sesuai dengan aturan, tata tertib dan perundang-undangan yang berlaku, memberikan lapuran data yang cepat dan akurat.
5.      Terlibat dalam berbagai program pengembangan sekolah.
6.      Dengan kinerja yang baik mampu menunjukkan sosok terdepan dalam setiap permasalah yang dihadapi sekolah.
7.      Selalu mengupayakan hasil kerja yang bermutu, menunjukkan rasa percaya diri, selalu berinovasi, dan menunjukkan rasa tanggung jawab dalam melaksanakan tugas.

Dengan kedisplinan, loyalitas dan kekompakan TAS SMKN 1 Kraksaan meyakinkan kami untuk mengajukan gagasan ini ke pimpinan yaitu kepala Sekolah.

Bulan Mei 2013 merupakan awal kami menyampaikan gagasan ini, hal ini kami lakukan karena pada bulan Juni 2013 RKAS tahun ajaran baru yaitu tahun pelajaran 2013/2014 sudah dibahas dan disusun bersama. Program yang sudah kami susun merupakan program jangka panjang karena membutuhkan pembiayaan yang besar, bukan hanya wadah taman, pengadaan tanaman untuk penghijauan, ketersediaan air juga menjadi program yang tidak bisa dipisahkan dengan program ini. Dengan proposal yang kami buat kepala sekolah menyampaikan ke forum rapat Komite Sekolah. Kepala sekolah menyediakan kesempatan pada kami untuk menyampaikan program kami. dengan presentasi yang kami lakukan. Komite sekolah, kepala sekolah dan guru menyetujui program ini yang tentunya dilakukan secara bertahap disesuaikan dengan kemampuan keuangan Sekolah.



B.     Hasil dan Pembahasan Program

1.      Pengembangan lingkungan sekolah

Laporan kegiatan Adiwiyata sekolah tiap akhir bulan kami jadikan bahan evaluasi untuk mengukur kinerja dan produktivitas kinerja Tas. Tak kalah penting, laporan kegiatan ini menjadi tanggung jawab terhadap program yang kami lakukan, karena pembiayaan berasal dari Iuran Komite Insidental (IKI), laporan pelaksanaan kegiatan harus transparan baik dari pelaksanaanya kegiatan ataupun pembiayaannya.
Berikut dana pembuatan Adiwiyata yang besumber dari Komite Sekolah insidental: (1) Tahun pelajaran 2013/2014 berhasil membuat wadah/tembok taman depan kelas dana yang disetuji Komite Sekolah Rp.10.000.000; (2) Tahun pelajaran 2014/2015 berhasil membuat wadah/tembok taman depan kelas dana yang disetuji Komite Sekolah Rp.5.000.000; (3) Tahun pelajaran 2015/2016 berhasil membuat wadah/tembok taman depan kantor dana yang disetuji Komite Sekolah Rp.10.000.000; (4) Tahun 2015 pengajuan proposal bantuan pohon jambu dan jeruk di Kantor Pertamanan Kabupaten Probolinggo didanai; (5) Tahun pelajaran 2016/2017 berhasil membuat wadah/tembok taman depan kantor dana yang disetuji 13.300.000; dan (6) Tahun pelajaran 2017/2018 melaksanakan pemeliharaan dan perbaikan taman dengan jumlah dana Rp.15.000.000.
Tabel 1. Daftar Biaya Program Adiwiyata Sekolah
Tahun Ajaran
Jumlah IKI
Realisasi Program
Sumber Dana
Keterangan
2013/2014
10.000.000,-
Wadah/tembok taman depan kelas
Iuran Komite Insidental
Sumbangan Sukarela
2014/2015
5.000.000,-
Wadah/tembok taman depan kelas dana
Idem
Sumbangan Sukarela
2015/2016
10.000.000,-
Wadah/tembok taman depan kantor
Idem
Sumbangan Sukarela
2015/2016

Bantuan pohon jambu dan jeruk
Kantor Pertamanan Kabupaten Probolinggo
Pengajuan Proposal
2016/2017
13.300.000,-
Wadah/tembok taman depan kantor dana
Iuran Komite Insidental
Sumbangan Sukarela
2017/2018
15.000.000,-
Pemeliharaan dan perbaikan taman
Idem
Sumbangan Sukarela

Mengingat sepertiga dari lingkungan sekolah adalah lahan kosong, dengan luas sekitar 8.000 m2 dan untuk mempercepat program Adiwiyata sekolah, kami sampaikan dalam forum rapat dinas sekolah bahwa program ini akan cepat terwujud sesuai dengan harapan bersama, perlu tindak lanjut dan dibutuhkan kerjasama dari semua pihak, diantaranya:
1.      Perlu penanam bunga, dan diperlukan kerjasama guru, siswa dan TAS untuk secara bersama sama menanam bunga di taman. Pembuatan taman depan kelas ini bertahap dengan segera dilaksanakan program penanaman bunga secara serentak di taman yang sudah tersedia maka proses berkembangnya tanaman lebih cepat sambil menunggu diselesaikannya taman yang lainnya.
2.      Untuk perawatannya perlu di sediakannya kran untuk penyiraman bunga di setiap taman. Hal ini untuk mengantisipasi musim kemarau tentunya penyiraman bunga harus lebih sering dilakukan untuk menjaga kesuburan tanaman
3.      Perlu penambahan pompa Air untuk pemenuhan kebutuhan air dalam perawatan taman. Jumlah siswa sekitar 1200 siswa dengan I unit ketersediaan pompa air ditambah dengan pengadaan taman di tiap depan kelas yaitu 37 ruang kelas tentunya tidak mencukupi kebutuhan air untuk penyiraman bunga sehingga perlu dibangunnya lagi I unit pompa air.
4.      Perlu ditingkatkan program bersama dan perawatan secara berkala yaitu program “JUMSIH” yaitu Jumat bersih, dan ini di awali tahun pelajaran 2014/2015. Program ini bertujuan untuk merawat tanaman, merapikan, membersihkan rumput dan tanaman liar yang tumbuh di dalam taman.
5.      Disediakannya tulisan agar lebih mencintai taman, misalnya “Indah tamanku senang hatiku” dan “Tamanku sumber inspirasiku”. Dengan disediakan ini tentukan membuka cakrawala baru yang diharapkan mampu menumbuhkan inspirasi dan inovasi dari siswa dalam proses pembelajaran.
6.      Diperlukan kerjasama dengan pihak luar agar Adiwiyata ini bisa terwujud dengan cepat. Kami Tahun 2015 pengajuan Proposal bantuan pohon jambu dan jeruk di Kantor Pertamanan Kabupaten Probolinggo. Lingkungan yang luas dan banyak lahan yang masih kosong ini diperlukan tanaman yang bisa digunakan sebagai bahan ajar dalam rangka mendukung proses pembelajaran.
7.      Untuk memaksimalkan Adiwiyata perlu kerjasama dengan guru, utamanya mata pelajaran Geografi dan Biologi yang memanfaatknan lingkungan sebagai bahan ajar. Selama 5 tahun program ini dilaksanakan,  tanaman hias, penghijauan telah tumbuh besar bisa dimanfaatkan sebagai bahan ajar sehingga hasil unjuk kerja siswa mencangkok, stek dan lainnya bisa mempercepat penambahan tanaman hias untuk ditanam di lingkungan sekolah
8.      Perlu disediakan lahan untuk pembibitan. Lahan pembibitan ini bertujuan untuk menampung hasil kerja siswa dan praktek penanaman yang dilakukan siswa.
     Program Adiwiyata merupakan program unggulan jangka panjang TAS di SMKN 1 Kraksaan. Program ini kami laksanakan mulai tahun pelajaran 2013/2014 dengan menggunakan format daftar kegiatan dan format laporan kegiatan Adiwiyata kinerja layanan sebagai instrumen monitoring dan evaluasi peningkatan kinerja dan produktfitas layanan khusus.
Hasil yang dicapai dari program Adiwiyata sampai dengan saat ini ialah:
a.    Dedikasi dan rasa percaya diri sebagai tukang kebun dan layanan khusus meningkat.
b.    Pemenuhan jam kehadiran layanan khusus yaitu 7 jam setiap hari.
c.    Pemberian insentif dalam pengerjaan taman meningkatkan kesejahteraan layanan khusus.
d.    Tenaga Administrasi Sekolah diberi kewenangan mengkondisikan proses awal pembelajaran.
e.    Loyalitas Tenaga Administrasi Sekolah mampu mengurangi keterlambatan kehadiran guru.
f.     Pembiasaan siswa program ‘JUMSIH” yaitu Jumat Bersih
g.    Guru memanfaatkan taman sebagai bahan ajar seperti mencangkok, stek dan pembelajaran penanaman.
h.    Pembelajaran menyenangkan dilakukan diluar kelas.
i.  SMKN 1 Kraksaan sering digunakan sebagai tempat kegiatan baik kegiatan tingkat kecamatan, Kabupaten maupun tingkat provinsi.
j.  Sekolah tingkat SMKN 1 Kraksaan wilayah kabupaten probolinggo konsultasi tentang program kerja Tenaga Administrasi Sekolah dan pola kinerja layanan khusus
k.    Menelurkan rencana jangka panjang pada tahun 2016/2017 SMKN 1 Kraksaan yaitu sekolah Adiwiyata.

2.        Dampak program terhadap Ketercapian 8 standar pendidikan
Program penataan lingkungan melalui program unggulan Adiwiyata sekolah ternyata memberikan dampak positif terhadap peningkatan kinerja 8 standar pendidikan. Penyusunan dan pengembangan silabus untuk beberapa mata pelajaran (mapel) tertentu, misalnya materi lingkungan hidup pada mapel Geografi dan pencangkokan tanaman pada mapel Biologi dintegrasikan dengan potensi yang tersedia di taman sekolah. Pembelajaran menjadi semakin menyenangkan, bahkan untuk evaluasi mapel Seni dapat dilakukan di taman sekolah dan memanfaatkan view taman. Komitmen pendidik dalam pemanfaatan taman sebagai sumber belajar, mampu meningkatkan kesadaran mereka untuk turut serta menjaga, memelihara, dan merawat taman sekolah.

Meningkatnya komitmen pendidik juga diiringi oleh semakin tingginya komitmen TAS. Budaya keterbukaan dalam pengelolaan program Adiwiyata sekolah, berdampak lebih luas terhadap pengelolaan program secara keseluruhan. Demikian juga dengan standar pembiayaan, program Adiwiyata didukung oleh komite sekolah melalui IKI.
Ringkasnya, terdapat peningkatan kinerja secara signifikan sebagai dampak dari program Adiwiyata sekolah. Berikut gambar sebelum dan sesudah program Adiwiyata dilakukan.
a.      Sebelum Program adiwiyata



 b. Gambar Sesudah Program Adiwiyata


 




Gambar . Kondisi sebelum dan sesudah program Adiwiyata Sekolah


C.    Faktor Pendukung dan Penghambat

Faktor pendukung program yaitu: (1) ketersediaan lahan untuk dikelola lebih lanjt menjadi lingkungan fisik sekolah; (2) keseuaian program dengan Adiwiyata yang juga menjadi unggulan sekolah; (3) kemampuan sekolah dalam memberikan insentif kepada tenaga administrasi sekolah terkait dengan program; (4) dukungan dan kesesuaian visi, misi, dan program sekolah dengan program ini; dan (5) dukungan dari warga sekolah dan masyarakat terhadap program ini.
Sementara itu, faktor penghambatnya yaitu: (1) masih kurang matangnya tahapan perencanaan program, terutama dampak psikolgis, sosial, dan kultural yang perlu dibuat lebih terarah dan terukur lagi; (2) sinkronisasi jadwal penanaman bunga antara guru, peserta didik, dan tenaga administrasi yang perlu di tata kembali; (3) perluasan jaringan kurang maksimal dilaksanakan; (4) sosialisasi kurang maksimal dilaksanakan, terutama kepada masyarakat; dan (5) bibit tanaman masih terbatas.



BAB V

SIMPULAN DAN REKOMENDASI


A.    Simpulan

Berdasarkan temuan dan pembahasan di atas dapat disimpulkan:
1.      Pengembangan lingkungan sekolah yang mencakup: Penataan dan Pengembangan Lingkungan Sekolah dengan Program Unggulan Adiwiyata Sekolah berhasil dan berjalan efektif dan efisien.
2.     Tercapainya pecapaian standar nasional pendidikan melalui penguatan manajemen lingkungan seklah yang mencakup: Penataan dan Pengembangan lingkungan Sekolah dengan Program Unggulan Adiwiyata Sekolah.

B.     Rekomendasi

Agar pencapaian standar nasional pendidikan melalui Penataan dan Pengembangan Lingkungan Sekolah dengan Program Unggulan Adiwiyata Sekolah, maka rekomendasi yang dapat dikemukakan antara lain: (1) Perlu penanam bunga, dan diperlukan kerjasama guru, siswa dan TAS untuk secara bersama sama menanam bunga di taman; (2) Untuk perawatannya perlu di sediakannya kran untuk penyiraman bunga di setiap taman; (3) Perlu penambahan pompa air untuk pemenuhan kebutuhan air dalam perawatan taman; (4) Perlu ditingkatkan program bersama dan perawatan secara berkala yaitu program “JUMSIH” yaitu Jumat bersih; (5) Di sediakannya tulisan agar lebih mencintai taman, misalnya “Indah tamanku senang hatiku” dan “Tamanku sumber inspirasiku”; (6) Diperlukan kerjasama dengan pihak luar agar Adiwiyata ini bisa terwujud dengan cepat; (76) Untuk memaksimalkan Adiwiyata perlu kerjasama dengan guru, utamanya mata pelajaran Geografi dan Biologi yang memanfaatknan lingkungan sebagai bahan ajar; dan (8) Perlu disediakan lahan untuk pembibitan.



DAFTAR PUSTAKA


Direktorat Pembinaan SD. 2013. Manajemen Budaya dan Lingkungan Berbasis Sekolah. Jakarta: Kemdikbud.
Juharyanto. (2014). Internalisasi Nilai Karakter Dalam Membangun Kultur Organisasi Pendidikan Studi Kasus pada Sekolah Tinggi Agama Islam Bondowoso. Jurnal Pendidikan Lentera Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso, 1(1). Retrieved from https://www.scribd.com/doc/212222730/ Isi-Jurnal-Edisi-Perdana-14-02-2014
Ningrum, W., Sunuharyo, B.S., Hakam, M.S. 2013. Pengaruh Pendidikan Dan Pelatihan Terhadap Kinerja Karyawan (Studi Pada Karyawan Joint Operating Body Pertamina-PertoChina East Java). Jurnal Administrasi Bisnis (JAB). 6 (2): 1-4.
Pasya. 2008. Lingkungan sebagai Sumber Belajar. http:file.upi.edu/ Direktori/FPIPS/jur.geografi/196103231986031gurniwankamilpasya/lnk-ajar.pdf  Dakses 5 September 2011.
Priatini, W., Latifah, M., Guhardja., S. 2008. Pengaruh Tipe Pengasuhan, Lingkungan Sekolah, dan Peran Teman Sebaya Terhadap Kecerdasan Emosional Remaja. Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen. 1 (1): 43-53.
Purwanto, N. 2009. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Suharsimi, A dan Yuliana, L .2012. Manajemen Pendidikan. Yogyakarta: Aditya Media
Suwarni, dkk. 2011. Pengaruh Lingkungan Keluarga dan Fasilitas Belajar di Rumah terhadap Prestasi Belajar Siswa. Jurnal Penelitian Kependidikan. Tahun 21, Nomor 2, Oktober 2011. ISSN: 0854-8323.
Triwiyanto, T. 2013. Standar Nasional Pendidikan Sebagai Indikator Mutu Layanan Manajemen Sekolah. Jurnal Ilmu Pendidikan. 19 (2): 84-85.
Triwiyanto, T. 2014. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Usman, H. 2010. Manajemen Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.